Checklist Beli Rumah Pertama untuk Pasangan Muda
Kediri Properti - Kalau kamu dan pasangan lagi di usia “lagi semangat
kerja tapi dompet masih belajar dewasa”, kepikiran beli rumah pertama
itu wajar banget.
Masalahnya, banyak pasangan muda baru sadar ada hal-hal krusial setelah tanda tangan.
Tetangga berisik, akses macet, dokumen kurang beres, atau cicilan KPR yang awalnya “masih aman” tiba-tiba bikin napas pendek tiap tanggal tua.
Dan ya… itu tipe penyesalan yang biasanya datang
diam-diam, pas kamu lagi lembur dan notifikasi autodebet masuk.
Biar kamu nggak melewati fase “kok dulu nggak cek ini
ya?”
Panduan ini aku susun seperti checklist yang runtut:
mulai dari tips beli rumah, cara hitung kemampuan cicilan KPR rumah
pertama yang aman, strategi DP rumah, sampai memilih rumah
subsidi vs non-subsidi yang paling masuk akal buat kondisi kamu sekarang.
Checklist Beli Rumah Pertama untuk Pasangan Muda
1) Sepakati “rumah versi kita”, bukan versi timeline orang
Sebelum buka aplikasi listing properti, duduk dulu
berdua: kita beli rumah untuk apa?
Untuk dekat kantor? Buat rencana punya anak 2–3 tahun lagi? Atau buat “markas
pulang” karena kalian capek kontrakan pindah-pindah?
Checklist mini yang sering dilupa:
- Pola kerja: WFO full, hybrid, atau remote (butuh ruang kerja?)
- Mobilitas: naik motor, mobil, KRL/MRT/Transum (butuh akses
tertentu?)
- Prioritas 2–3 tahun: nikah baru, rencana anak, tanggungan orang tua
- Toleransi renovasi: sanggup “rapihin dikit-dikit” atau maunya siap
huni
Gaya artikel referensi biasanya mengingatkan: rumah
bukan cuma “punya”, tapi harus cocok sama hidupmu sehari-hari (dan itu baru
kerasa kalau sudah ditempati).
2) Tetapkan batas budget total (bukan cuma harga rumah)
Banyak pasangan muda fokus ke “harga rumahnya Rp X”,
padahal biaya pembelian itu satu paket: ada dokumen, pajak, notaris, biaya
proses, dan kadang renovasi kecil.
Di beberapa panduan, rule of thumb yang sering
dipakai: cicilan ideal jangan lebih dari sekitar 30% penghasilan bulanan,
supaya cashflow tetap longgar.
Praktisnya begini:
- Tentukan budget all-in (harga rumah + biaya proses +
cadangan).
- Siapkan buffer minimal 3–6 bulan pengeluaran rutin (biar
nggak panik saat ada kebutuhan mendadak).
3) Siapkan DP rumah + dana “perintilan besar”
DP rumah itu bukan sekadar angka di brosur. Umumnya DP
bisa berkisar 10–20% tergantung program dan kesepakatan.
Selain DP, siapin juga “perintilan besar” yang sering bikin kaget:
- Biaya administrasi bank / appraisal
- Notaris & balik nama
- Pajak-pajak transaksi (beda kasus beda komponen)
- Biaya pindahan + isi rumah (yang kecil-kecil justru ngumpul)
Analoginya: DP itu tiket masuk
konser. Tapi kalau kamu lupa uang parkir, merch, dan makan—tetap aja boncos.
4) Cek lokasi pakai “tes jam sibuk”, bukan feeling
Lokasi itu faktor yang paling susah diperbaiki. Cat
tembok bisa diganti, tapi jarak 2 jam ke kantor? Itu ritual harian.
Checklist lokasi yang membumi:
- Coba rute ke kantor di jam berangkat & pulang kerja
(bukan jam santai).
- Cek akses fasilitas: minimarket, klinik, sekolah (kalau perlu),
transportasi umum.
- Cek risiko: banjir, jalan sempit, penerangan, keamanan lingkungan.
5) Survei bangunan seperti “QA di kerjaan”
Kalau di kantor kamu teliti sebelum approve sesuatu,
rumah juga begitu. Survei minimal 2 kali (kalau bisa beda waktu).
Checklist fisik:
- Dinding retak, rembes, atap bocor (tanya riwayatnya)
- Air: tekanan, warna, bau; cek juga saluran pembuangan
- Listrik: MCB, stop kontak, kabel terlihat rapi atau tidak
- Ventilasi & pencahayaan (jangan sampai rumah lembap terus)
Ini bukan perfeksionis, ini cara menghindari biaya
yang “nyesek” setelah akad.
6) Legalitas dan dokumen: jangan malu jadi cerewet
Untuk beli rumah pertama, bagian dokumen sering
bikin takut ketipu. Dan wajar. Minimal kamu paham dokumen kunci seperti
sertifikat (SHM/SHGB), IMB/PBG sesuai ketentuan setempat, AJB, dan bukti PBB.
Kalau beli dari developer, cek rekam jejaknya dan
minta transparansi progres.
Kalimat aman yang boleh kamu ulang-ulang:
“Boleh saya lihat dokumen pendukungnya dulu ya, biar sama-sama enak.”
![]() |
| Ilustrasi Foto realistis pasangan muda Indonesia berdiri di depan rumah cluster sederhana |
Cara Menghitung Kemampuan Cicilan KPR yang Aman
1) Pakai patokan rasio cicilan ideal dulu
Patokan populer yang sering dipakai adalah maksimal
30% penghasilan bulanan untuk total cicilan utang, agar keuangan nggak
sesak.
Contoh cepat:
- Penghasilan gabungan bersih: Rp 12.000.000/bulan
- Batas cicilan aman (30%): Rp 3.600.000/bulan
Kalau kamu sudah punya cicilan motor Rp 800.000, maka
ruang KPR “aman” jadi sekitar Rp 2.800.000.
>2) Hitung dari “yang pasti keluar” dulu, bukan dari sisa
Biar realistis, susun begini:
- Penghasilan bersih (setelah potongan)
- Pengeluaran wajib: makan, transport, pulsa, listrik, orang tua
(kalau ada)
- Dana darurat & tabungan (minimal)
- Baru tentukan kemampuan cicilan KPR
Kunci E-E-A-T versi pasangan muda: transparan sama angka. Bukan untuk menghakimi, tapi supaya keputusan
finansialmu bisa dipertanggungjawabkan.
3) Gunakan simulasi KPR, tapi jangan berhenti di satu skenario
Simulasi KPR itu seperti simulasi beban kerja: enak
dibaca, tapi harus dites dengan beberapa kondisi.
- Tenor 10 vs 15 vs 20 tahun
- Bunga fix di awal vs floating
- DP lebih besar = cicilan bisa turun
Kamu bisa pakai kalkulator/simulasi KPR untuk dapat gambaran cicilan dari kombinasi harga rumah, DP, tenor, dan bunga.
4) Sisakan ruang napas untuk hidup (dan kejutan kantor)
Yang sering bikin cicilan terasa “mencekik” bukan
cicilannya doang, tapi kejutan hidup:
- Laptop rusak, keluarga sakit, pindah job, atau proyek kantor sepi
lembur
Makanya, selain patokan 30%, pastikan kamu masih punya ruang untuk: - dana darurat,
- proteksi dasar (asuransi yang relevan),
- dan tabungan tujuan lain.
Rumah Subsidi vs Non-Subsidi: Mana yang Cocok?
1) Pahami dulu: rumah subsidi itu “program”, bukan sekadar murah
Rumah subsidi (misalnya skema FLPP) biasanya ditujukan
untuk MBR dengan ketentuan tertentu. Di laman BP Tapera, FLPP disebut
menawarkan bunga tetap 5% untuk membantu pembelian rumah.
Batas penghasilan MBR juga diatur per zona wilayah.
Contohnya, dalam lampiran Permen PKP No. 5 Tahun 2025, ada pembagian zonasi dan
batas penghasilan bulanan paling banyak (misal Zona 1–4) untuk kategori tidak
kawin/kawin/peserta Tapera.
Kapan rumah subsidi cocok buat kamu:
- Kamu butuh cicilan yang lebih terjangkau dan stabil
- Kamu masih mengejar “punya rumah dulu” sebagai pijakan
- Kamu memenuhi syarat program dan siap mengikuti ketentuannya
2) Rumah non-subsidi: lebih fleksibel, tapi kamu harus lebih siap
Kelebihannya biasanya:
- Pilihan lokasi dan tipe lebih luas
- Fleksibilitas spek dan pengembang lebih banyak
Tapi konsekuensinya:
- Harga dan cicilan bisa lebih tinggi
- Kamu perlu lebih teliti soal skema bunga, biaya, dan kesiapan DP
rumah
3) Cara memilih yang nggak bikin menyesal
Pakai 3 pertanyaan ini:
- Cashflow aman nggak? (ingat rasio
cicilan)
- Lokasinya mendukung rutinitas kerja?
- Kalau 2 tahun ke depan kondisi berubah, masih sanggup?
Kalau subsidi membuat kamu “bisa mulai” tanpa
mengorbankan napas, itu valid. Kalau non-subsidi membuat kamu lebih cocok
secara lokasi dan rencana hidup, itu juga valid. Yang bahaya adalah memilih
karena gengsi atau FOMO orang lain.
Checklist Final (Versi Tempel di Notes HP)
Finansial
- Budget all-in sudah dihitung
- DP rumah + biaya proses siap
- Cicilan target ≤ 30% penghasilan bersih
- Dana darurat minimal 3–6 bulan aman
Properti dan Lokasi
- Tes commute jam sibuk
- Cek banjir/akses/jalan/keamanan
- Survei bangunan 2x (beda waktu)
>Legalitas
- Sertifikat & dokumen dasar dicek
- Riwayat developer/penjual jelas
- Semua janji tertulis di dokumen (bukan chat doang)
FAQ
1) Berapa DP rumah yang ideal untuk rumah pertama?
2) Rasio cicilan KPR yang aman itu berapa?
3) Rumah subsidi itu cocok untuk siapa?
Beli rumah pertama itu bukan lomba cepat-cepatan. Ini
lebih mirip keputusan karier: kelihatannya “cuma tanda tangan”, tapi efeknya
panjang dan terasa tiap bulan.
Kalau kamu dan pasangan mau sedikit lebih pelan untuk
cek legalitas, hitung cicilan KPR yang aman, dan memastikan lokasi benar-benar
cocok—itu bukan ragu-ragu. Itu justru dewasa.
Karena penyesalan yang paling mahal biasanya bukan
“aku kurang cepat”, tapi “aku kurang teliti”.
Dan kamu pasti lebih suka punya rumah yang bikin lega
setiap pulang kerja, bukan rumah yang bikin deg-degan setiap tanggal gajian.
📖 Lihat Sumber Informasi dan Gambar
02. 10 Tips Membeli Rumah Pertama agar Tak Salah Pilih! – citragardenserpong.com
03. Checklist Penting sebelum Beli Rumah Pertama – sinarmasland.com Referensi Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi AI.



.gif)

No comments:
Post a Comment