Wednesday, February 4, 2026

Checklist Beli Rumah Pertama untuk Pasangan Muda

Pasangan muda Indonesia duduk di meja makan rumah kontrakan yang rapi, melihat laptop terbuka menampilkan simulasi KPR, dengan kertas checklist dan kalkulator di meja; cahaya pagi natural, ada teks overlay “Checklist Beli Rumah Pertama (Anti Nyesel)”
💡 Ringkasan Artikel: Panduan ini memberi checklist runtut untuk pasangan muda yang mau beli rumah pertama dari finansial, survei lokasi, sampai legalitas. Kamu juga diajak menghitung cicilan KPR yang aman dan memahami kapan rumah subsidi lebih cocok daripada non-subsidi.


Kediri Properti - Kalau kamu dan pasangan lagi di usia “lagi semangat kerja tapi dompet masih belajar dewasa”, kepikiran beli rumah pertama itu wajar banget.

Masalahnya, banyak pasangan muda baru sadar ada hal-hal krusial setelah tanda tangan.

Tetangga berisik, akses macet, dokumen kurang beres, atau cicilan KPR yang awalnya “masih aman” tiba-tiba bikin napas pendek tiap tanggal tua.

Dan ya… itu tipe penyesalan yang biasanya datang diam-diam, pas kamu lagi lembur dan notifikasi autodebet masuk.

Biar kamu nggak melewati fase “kok dulu nggak cek ini ya?”

Panduan ini aku susun seperti checklist yang runtut: mulai dari tips beli rumah, cara hitung kemampuan cicilan KPR rumah pertama yang aman, strategi DP rumah, sampai memilih rumah subsidi vs non-subsidi yang paling masuk akal buat kondisi kamu sekarang.

 

Checklist Beli Rumah Pertama untuk Pasangan Muda

1) Sepakati “rumah versi kita”, bukan versi timeline orang

Sebelum buka aplikasi listing properti, duduk dulu berdua: kita beli rumah untuk apa?
Untuk dekat kantor? Buat rencana punya anak 2–3 tahun lagi? Atau buat “markas pulang” karena kalian capek kontrakan pindah-pindah?

Checklist mini yang sering dilupa:

  • Pola kerja: WFO full, hybrid, atau remote (butuh ruang kerja?)
  • Mobilitas: naik motor, mobil, KRL/MRT/Transum (butuh akses tertentu?)
  • Prioritas 2–3 tahun: nikah baru, rencana anak, tanggungan orang tua
  • Toleransi renovasi: sanggup “rapihin dikit-dikit” atau maunya siap huni

Gaya artikel referensi biasanya mengingatkan: rumah bukan cuma “punya”, tapi harus cocok sama hidupmu sehari-hari (dan itu baru kerasa kalau sudah ditempati).

 

2) Tetapkan batas budget total (bukan cuma harga rumah)

Banyak pasangan muda fokus ke “harga rumahnya Rp X”, padahal biaya pembelian itu satu paket: ada dokumen, pajak, notaris, biaya proses, dan kadang renovasi kecil.

Di beberapa panduan, rule of thumb yang sering dipakai: cicilan ideal jangan lebih dari sekitar 30% penghasilan bulanan, supaya cashflow tetap longgar.

Praktisnya begini:

  • Tentukan budget all-in (harga rumah + biaya proses + cadangan).
  • Siapkan buffer minimal 3–6 bulan pengeluaran rutin (biar nggak panik saat ada kebutuhan mendadak).

 

3) Siapkan DP rumah + dana “perintilan besar”

DP rumah itu bukan sekadar angka di brosur. Umumnya DP bisa berkisar 10–20% tergantung program dan kesepakatan.
Selain DP, siapin juga “perintilan besar” yang sering bikin kaget:

  • Biaya administrasi bank / appraisal
  • Notaris & balik nama
  • Pajak-pajak transaksi (beda kasus beda komponen)
  • Biaya pindahan + isi rumah (yang kecil-kecil justru ngumpul)

Analoginya: DP itu tiket masuk konser. Tapi kalau kamu lupa uang parkir, merch, dan makan—tetap aja boncos.

 

4) Cek lokasi pakai “tes jam sibuk”, bukan feeling

Lokasi itu faktor yang paling susah diperbaiki. Cat tembok bisa diganti, tapi jarak 2 jam ke kantor? Itu ritual harian.

Checklist lokasi yang membumi:

  • Coba rute ke kantor di jam berangkat & pulang kerja (bukan jam santai).
  • Cek akses fasilitas: minimarket, klinik, sekolah (kalau perlu), transportasi umum.
  • Cek risiko: banjir, jalan sempit, penerangan, keamanan lingkungan.

 

5) Survei bangunan seperti “QA di kerjaan”

Kalau di kantor kamu teliti sebelum approve sesuatu, rumah juga begitu. Survei minimal 2 kali (kalau bisa beda waktu).

Checklist fisik:

  • Dinding retak, rembes, atap bocor (tanya riwayatnya)
  • Air: tekanan, warna, bau; cek juga saluran pembuangan
  • Listrik: MCB, stop kontak, kabel terlihat rapi atau tidak
  • Ventilasi & pencahayaan (jangan sampai rumah lembap terus)

Ini bukan perfeksionis, ini cara menghindari biaya yang “nyesek” setelah akad.

 

6) Legalitas dan dokumen: jangan malu jadi cerewet

Untuk beli rumah pertama, bagian dokumen sering bikin takut ketipu. Dan wajar. Minimal kamu paham dokumen kunci seperti sertifikat (SHM/SHGB), IMB/PBG sesuai ketentuan setempat, AJB, dan bukti PBB.

Kalau beli dari developer, cek rekam jejaknya dan minta transparansi progres.

Kalimat aman yang boleh kamu ulang-ulang:
“Boleh saya lihat dokumen pendukungnya dulu ya, biar sama-sama enak.”

 

Foto realistis pasangan muda Indonesia berdiri di depan rumah cluster sederhana, memegang map dokumen dan pulpen, ekspresi fokus tapi optimis, latar perumahan pinggiran kota Indonesia, langit cerah, warna natural, teks overlay sama.
Ilustrasi Foto realistis pasangan muda Indonesia berdiri di depan rumah cluster sederhana

Cara Menghitung Kemampuan Cicilan KPR yang Aman

1) Pakai patokan rasio cicilan ideal dulu

Patokan populer yang sering dipakai adalah maksimal 30% penghasilan bulanan untuk total cicilan utang, agar keuangan nggak sesak.

Contoh cepat:

  • Penghasilan gabungan bersih: Rp 12.000.000/bulan
  • Batas cicilan aman (30%): Rp 3.600.000/bulan

Kalau kamu sudah punya cicilan motor Rp 800.000, maka ruang KPR “aman” jadi sekitar Rp 2.800.000.

 

>2) Hitung dari “yang pasti keluar” dulu, bukan dari sisa

Biar realistis, susun begini:

  1. Penghasilan bersih (setelah potongan)
  2. Pengeluaran wajib: makan, transport, pulsa, listrik, orang tua (kalau ada)
  3. Dana darurat & tabungan (minimal)
  4. Baru tentukan kemampuan cicilan KPR

Kunci E-E-A-T versi pasangan muda: transparan sama angka. Bukan untuk menghakimi, tapi supaya keputusan finansialmu bisa dipertanggungjawabkan.

 

3) Gunakan simulasi KPR, tapi jangan berhenti di satu skenario

Simulasi KPR itu seperti simulasi beban kerja: enak dibaca, tapi harus dites dengan beberapa kondisi.

  • Tenor 10 vs 15 vs 20 tahun
  • Bunga fix di awal vs floating
  • DP lebih besar = cicilan bisa turun

Kamu bisa pakai kalkulator/simulasi KPR untuk dapat gambaran cicilan dari kombinasi harga rumah, DP, tenor, dan bunga.

 

4) Sisakan ruang napas untuk hidup (dan kejutan kantor)

Yang sering bikin cicilan terasa “mencekik” bukan cicilannya doang, tapi kejutan hidup:

  • Laptop rusak, keluarga sakit, pindah job, atau proyek kantor sepi lembur
    Makanya, selain patokan 30%, pastikan kamu masih punya ruang untuk:
  • dana darurat,
  • proteksi dasar (asuransi yang relevan),
  • dan tabungan tujuan lain.

 

Rumah Subsidi vs Non-Subsidi: Mana yang Cocok?

1) Pahami dulu: rumah subsidi itu “program”, bukan sekadar murah

Rumah subsidi (misalnya skema FLPP) biasanya ditujukan untuk MBR dengan ketentuan tertentu. Di laman BP Tapera, FLPP disebut menawarkan bunga tetap 5% untuk membantu pembelian rumah.

Batas penghasilan MBR juga diatur per zona wilayah. Contohnya, dalam lampiran Permen PKP No. 5 Tahun 2025, ada pembagian zonasi dan batas penghasilan bulanan paling banyak (misal Zona 1–4) untuk kategori tidak kawin/kawin/peserta Tapera.

Kapan rumah subsidi cocok buat kamu:

  • Kamu butuh cicilan yang lebih terjangkau dan stabil
  • Kamu masih mengejar “punya rumah dulu” sebagai pijakan
  • Kamu memenuhi syarat program dan siap mengikuti ketentuannya

 

2) Rumah non-subsidi: lebih fleksibel, tapi kamu harus lebih siap

Kelebihannya biasanya:

  • Pilihan lokasi dan tipe lebih luas
  • Fleksibilitas spek dan pengembang lebih banyak

 

Tapi konsekuensinya:

  • Harga dan cicilan bisa lebih tinggi
  • Kamu perlu lebih teliti soal skema bunga, biaya, dan kesiapan DP rumah

 

3) Cara memilih yang nggak bikin menyesal

Pakai 3 pertanyaan ini:

  1. Cashflow aman nggak? (ingat rasio cicilan)
  2. Lokasinya mendukung rutinitas kerja?
  3. Kalau 2 tahun ke depan kondisi berubah, masih sanggup?

Kalau subsidi membuat kamu “bisa mulai” tanpa mengorbankan napas, itu valid. Kalau non-subsidi membuat kamu lebih cocok secara lokasi dan rencana hidup, itu juga valid. Yang bahaya adalah memilih karena gengsi atau FOMO orang lain.

 

Checklist Final (Versi Tempel di Notes HP)

Finansial

  • Budget all-in sudah dihitung
  • DP rumah + biaya proses siap
  • Cicilan target ≤ 30% penghasilan bersih
  • Dana darurat minimal 3–6 bulan aman

 

Properti dan Lokasi

  • Tes commute jam sibuk
  • Cek banjir/akses/jalan/keamanan
  • Survei bangunan 2x (beda waktu)

 

>Legalitas

  • Sertifikat & dokumen dasar dicek
  • Riwayat developer/penjual jelas
  • Semua janji tertulis di dokumen (bukan chat doang)

 

FAQ

1) Berapa DP rumah yang ideal untuk rumah pertama?
Idealnya DP mengikuti kemampuan cashflow. Banyak skenario memakai 10–20% agar cicilan lebih ringan, tapi yang penting DP + biaya proses tidak menghabiskan dana darurat.
2) Rasio cicilan KPR yang aman itu berapa?
Patokan praktis yang sering dipakai: total cicilan utang (termasuk KPR) sekitar maksimal 30% penghasilan bulanan, supaya pengeluaran lain tetap aman.
3) Rumah subsidi itu cocok untuk siapa?
Cocok untuk kamu yang memenuhi syarat program dan butuh cicilan lebih terjangkau. Contohnya FLPP yang menawarkan bunga tetap 5% dan ketentuan penghasilan MBR berdasarkan zonasi.

 

Beli rumah pertama itu bukan lomba cepat-cepatan. Ini lebih mirip keputusan karier: kelihatannya “cuma tanda tangan”, tapi efeknya panjang dan terasa tiap bulan.

Kalau kamu dan pasangan mau sedikit lebih pelan untuk cek legalitas, hitung cicilan KPR yang aman, dan memastikan lokasi benar-benar cocok—itu bukan ragu-ragu. Itu justru dewasa.

Karena penyesalan yang paling mahal biasanya bukan “aku kurang cepat”, tapi “aku kurang teliti”.

Dan kamu pasti lebih suka punya rumah yang bikin lega setiap pulang kerja, bukan rumah yang bikin deg-degan setiap tanggal gajian.

⚠️ Panduan ini disusun berdasarkan gabungan berbagai sumber referensi serta keyakinan dan pemahaman penulis. Oleh karena itu, pembaca disarankan menggunakan panduan ini sebagai referensi umum dan melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan masing-masing.
📖 Lihat Sumber Informasi dan Gambar
Referensi Tulisan: 01. 11 Tips Membeli Rumah Pertama yang Aman dan Antirugi – sahabat.pegadaian.co.id
02. 10 Tips Membeli Rumah Pertama agar Tak Salah Pilih! – citragardenserpong.com
03. Checklist Penting sebelum Beli Rumah Pertama – sinarmasland.com
Referensi Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi AI.
✍️ Ditulis oleh  Muhammad Affizar Ibrahim Alkautsar

Postingan Terkait

No comments:

Post a Comment